banner 728x250

Opini  

Wanita dan Kemuliaan Generasi

Wanita dan Kemuliaan Generasi
Rasminar Sumayyah Mallo

bukabaca.id – Jika membahas perempuan maka yang terbesit di benak saya adalah kemuliaan dan penghargaan yang begitu tinggi dari Tuhan.

Mengapa demikian? Karena di dalam Islam secara khusus dibahas tentang perempuan dalam QS. An-nisa. Di dalam Islam, perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan laki-laki di hadapan Allah SWT.

Yang membedakan adalah tingkat ketakwaannya, sebagaimana firmannya, “Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

Sungguh, Allah maha mengetahui, maha teliti.” (QS Al-Hujurat : 13). Jadi apapun kebaikan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki, maka akan mendapatkan pahala yang sama di mata Allah Subhanallahwata’ala.

Oleh karena itu, laki-laki maupun perempuan bebas melakukan kebaikan karena mereka memiliki tanggung jawab yang sama dalam beramal makruf nahi mungkar. Akan tetapi, dalam ranah tertentu Islam membedakan peran laki-laki dan perempuan sesuai dengan kodrat masing-masing.

Di antaranya seorang perempuan, dia mengandung, melahirkan, menyusui, madrasah pertama bagi anak-anak dan sebagai pengatur rumah tangga. Dan laki-laki sebagai pemimpin sekaligus sebagai pelindung bagi keluarganya.

Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya dan ketika sudah dewasa, maka kepribadian yang terbentuk adalah hasil didikan seorang ibu. Selain itu, ibu adalah pengukur rumah tangga semenjak menikah, pengatur dalam artian tidak hanya sekadar mengatur keadaan fisik rumah tangganya, tetapi aktivitas apapun yang ada dalam rumah tangganya harus sesuai dengan tuntutan syariat Islam, itulah fungsinya penting seorang perempuan dalam Islam.

Hal ini sangat berbeda dengan pandangan kaum feminisme, mereka menganggap bahwa kemuliaan perempuan atau pria ditentukan oleh kesetaraan hak dan kewajiban dalam ranah sosial, ekonomi, dan politik. Ini berarti tolak ukur kaum feminisme adalah kuantitas aktivitas bukan kualitas, sehingga mereka beranggapan bahwa perempuan yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga kurang menguntungkan dibandingkan dengan mereka yang bekerja di luar rumah, padahal dalam Islam perempuan adalah pusat keluarga, jantung masyarakat, dan pendidik generasi masa depan.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menyadarkan umat muslim dari rayuan gombal kaum feminis yang rusak dan merusak supaya kembali pada ajaran Islam yang kaffah.

Ide feminisme dan kesetaraan gender adalah salah satu alat kontrol negara-negara kapitalis sekuler, sehingga walaupun rusak, ide ini akan tetap digaungkan dengan jargon-jargon yang indah dan melenakan. Seperti memperjuangkan hak asasi perempuan, ingin mengembalikan perempuan pada kursi mulia, memerdekakan perempuan dari ketertindasan dan masih banyak jargon-jargon semu yang mereka gaungkan yang pada hakikatnya hanya merugikan perempuan, bagaimana tidak! Peran perempuan direbut oleh aktivitas-aktivitas yang lebih banyak di luar rumah sehingga lupa dan abai dengan tugas pokoknya sebagai pengatur rumah tangga.

Walhasil, banyak generasi-generasi rusak karena seks bebas, narkoba, tawuran, dan masih banyak permasalahan-permasalahan generasi yang disebabkan kurangnya didikan dari seorang ibu/perempuan.

Feminisme berusaha membentuk pandangan bahwa perempuan harus mendapatkan hak yang selama ini tidak didapat dan hanya didominasi oleh laki-laki. Juga harus terbebas dari aturan agama yang katanya mengekang, padahal mereka berusaha untuk menutupi sejarah kelam di Eropa kala itu dan menutupi kejayaan Islam berkhusus yang berkaitan dengan perempuan.

Inilah bentuk strategi yang dilakukan kaum feminisme supaya umat jauh dari pemikiran Islam.

Anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang terkekang oleh syariat Islam, tertindas oleh laki-laki merupakan anggapan yang sangat keliru. Ini ramai digaungkan oleh kaum feminisme yang sangat sakit hati dengan pemerintahan gereja pada abad pertengahan di Eropa pada saat itu. Jika dicermati pada abad pertengahan sejatinya Islam berada pada masa kejayaan dari semua aspek kehidupan di antara perempuan bisa berperan di ranah publik dan mendapatkan hak-haknya secara penuh sesuai dengan syariat Islam.

Tapi sayangnya, kemuliaan perempuan yang diatur dengan syariat Islam justru dikaburkan oleh ide feminisme. Tidak heran jika pemikiran kaum feminisme pada masa sekarang selalu mengkritisi aturan yang berbau syariat Islam, ini dilakukan supaya umat semakin jauh dengan Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam dianggap hanya seputar ibadah mahdah saja dan tidak perlu digunakan untuk mengurusi urusan kehidupan utamanya yang berkaitan dengan perempuan.

Ini merupakan sekularisme, atau pemisahan agama dengan kehidupan. Paham ini sangat bertentang dengan Islam, karena dalam Islam semuanya diatur mulai dari masuk toilet sampai urusan negara. Apalagi aturan tentang perempuan, sudah sangat terperinci, karena perempuan adalah tiang peradaban. Oleh karena itu, penting bagi kita mendakwahkan Islam secara kahfah. Karena pada faktanya, ketika umat semakin jauh dari syariat Islam maka kerusakanlah yang didapat dari semua aspek kehidupan. Wallahu’allam bissawab.

Oleh : Rasmidar Sumayyah Mallo
Pemerhati Sosial Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *