Berita  

TPA Tamangapa Bersiap Hadapi Musim Hujan, Founder Komunitas MTS: Perlu Prioritaskan Pembersihan Drainase

Nasrun, SE kepala UPT TPA Tamangapa, saat melakukan pemantauan langsung. (ist)

bukabaca.id, Makassar – Musim Penghujan segera tiba, Tempat Pembuangan Akhir (TPA ) Tamangapa Kota Makassar mulai menerapkan aturan pembatasan waktu bongkar, yaitu 20 menit untuk tiap armada pengangkut (armada Tangkasa’ki).

Kepala UPT TPA Tamangapa, Nasrun menyampaikan hal tersebut untuk melancarkan pengerjaan pembuangan sampah di TPA dan sebagai upaya mengurangi kemacetan akibat antrian panjang. Jum’at (07/10/2022).


Disamping itu pihaknya juga melakukan pemanjangan jalur pembuangan di dalam TPA, sehingga area pembuangan bisa diperluas.

“Tahun Anggaran 2022 TPA Tamangapa akan mendapat Tambahan Alat berat baru. Dengan demikian pekerjaaa kami akan lebih dioptimalkan lagi,” kata Pria yang baru sekitar 4 bulan menjabat sebagai Kepala UPT TPA Tamangapa ini.

Founder Komunitas Manggala Tanpa Sekat, Mashud Azikin yang juga selaku leader mind komunitas yang saat ini fokus dalam pengolahan sampah, khususnya sampah organik di Kota Makassar. Saat ditemui bukabaca.id di Warkop Chemistry Antang, mengapresiasi upaya Pihak TPA Tamangapa selama 4 bulan terakhir ini.

“Upaya Pihak TPA Tamangapa sudah cukup maksimal, namun demikian perlu juga diprioritaskan upaya pembersihan drainase menuju kolam lindi TPA, dengan mengontrol penataan air lindi sesering mungkin,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Mazhud, sapaan akrabnya menerangkan, air lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari pemaparan air hujan pada timbunan sampah.

“Komposisi air lindi sekurangnya dipengaruhi jenis sampah terdeposit dan jumlah curah hujan di daerah TPA. Olehnya itu optimalisasi kerja alat berat (eksavator) perlu disiagakan untuk mengeruk sampah yang mungkin menyumbat penyaluran,” terang Alumnus Kimia Unhas, yang saat ini sangat getol mengkampanyekan semangat social enterpreneur (sosiopreneur) atau wirausaha sosial di kalangan anak muda.

Nasrun menambahkan, saat ini pihaknya memberi peluang pada armada Tangkasa’ki untuk mencari titik-titik pembuangan alternatif agar dapat membuang sampahnya sendiri, dengan catatan titik pembuangan tersebut tidak mengganggu aktivitas masyarakat, dalam artian yang beraktivitas di lokasi tersebut semata-mata hanya armada Tangkasa’ki.

“Alternatif ini diambil mengingat waktu yang dipergunakan untuk proses pembongkaran masih memerlukan waktu yang cukup lama (35 menit). Jika hal ini bisa dilaksanakan, dapat mengurangi beban kemacetan di dalam TPA Tamangapa,” kunci Nas sapaan akrabnya (*)

(Mastricht)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *