banner 728x250

Becak Butut dan Seribu Satu Kisah Kehidupan Malang Dg. Nompo

bukabaca.id – Matahari yang sedari pagi, begitu setia menyinari jagad raya, mulai meredup. Sebuah pertanda alam yang menyiratkan, bahwa sebentar lagi, ia akan menyelesaikan tugas dan kewajibannya menyinari bumi.

Siang telah berganti sore dan perlahan memasuki waktu petang. Mentari pun mulai bergerak perlahan kembali ke peraduannya.

Dalam selam waktu yang tidak lama, posisinya mulai tergantikan oleh kehadiran, bias cahaya rembulan malam, serta pantulan cahaya bintang yang bertebaran di langit.

Satu persatu, pintu rumah penduduk mulai tertutup. Begitu juga dengan kawasan pertokoan, warung, dan lokasi keramaian lainnya.

Sebahagian warga memanfaatkan waktu untuk beristrahat dan sejenak menghilangkan rasa letih, serta kepenatan, seusai melakukan rutinitas pagi, hingga menjelang petang.

Namun tidak, bagi Dg. Nompo (70 tahun), salah seorang warga pendatang dari salah satu kota tetangga Kabupaten Kepulauan Selayar yang sudah tinggal berdomisili, mengadu nasib, dan peruntungan di kota Bumi Tanadoang sebagai seorang penggayuh becak.

Disaat, sebahagian warga mulai terlelap dalam tidur pulas dan buaian mimpi indah di malam hari, Dg. Nompo, masih harus ‘bergentayangan’.

Duduk di tepi jalan, bersama becak butut yang selalu setia menemaninya di sisa-sisa usia uzurnya.

Berbeda dengan penggayuh becak lain pada umumnya. Ia duduk di tepi jalan, bukan untuk mencari penumpang.

Melainkan, menanti uluran tangan, dan belas kasih dari sesama, atau pengendara yang iba dan sudi untuk berbagi.

Paling tidak, ia berharap bisa mendapatkan sedikit sisa makanan, dan segelas air mineral, sebagai pengganjal perut serta rasa lapar di malam hari.

Nafas yang mulai tersengal-sengal, membuat Dg. Nompo, tak lagi sanggup untuk menggayuh roda becak, bermuatan penumpang, seperti dulu, saat ia masih muda dan memiliki saving tenaga yang lebih dari cukup untuk memutar ban becak miliknya.

Sejak itu pula, satu persatu keluarga dan anak-anaknya mulai menghindar dan tak lagi sudi untuk tinggal bersamanya.

Ia bahkan diusir oleh anaknya, karena tak lagi mampu bekerja, dan menghasilkan rupiah seperti dulu.

Sejak itu, ia mengaku harus hidup luntang-lantung di jalanan dan sama sekalk tak punya rumah untuk dijadikan sebagai tempat bernaung dan berteduh.

Dalam kondisi itu, tak ada alternatif dan pilihan lain baginya, kecuali harus menjadikan becak bututnya, sebagai rumah, dan sekaligus lemari pakaian berjalan.

Becak yang seharusnya bermuatan penumpang, malah berisi tumpukan berbagai jenis kain yang berserakan hingga ke lantai becak.

Ketika rasa lelah dan kantuk mulai datang dan ‘menyerang,’ tak ada pilihan bagi Dg. Nompo, kecuali harus singgah merebahkan tubuh rentahnya, di atas lantai ubin, teras Masjid.

Ia mengaku, tak jarang menjadi ‘penunggu’ teras Masjid Agung, Al Umaraini, di ruas Jln. Dr. Muchtar, Benteng, atau sekali waktu, tidur di salah satu teras, bangunan Masjid di Lingkungan Bonea, Kelurahan Benteng Utara.

Penuturan ini, disampaikan Dg. Nompo kepada tim realitas kehidupan, hari, Selasa, (3/03) malam, saat disambangi, di tugu patung jeruk, kota Benteng.

Catatan pilu kehidupan Dg. Nompo kembali menguatkan fakta, dan realita, bahwa klaim peningkatan ekonomi Selayar yang disebut-sebut mencapai angka 8,77 %, dan bahkan melampaui struktur perekonomian Sulsel, ternyata sangat jauh berbanding terbalik dengan struktur kehidupan ekonomi masyarakat.

Penulis : Fadly Sarif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *